MATIUS 10:24–39
Dalam dunia militer atau organisasi besar, logistik adalah sistem penyediaan, pemeliharaan, dan pendistribusian sumber daya yang dibutuhkan untuk menjalankan sebuah misi. Tanpa logistik yang cukup, sebuah misi akan sulit berhasil. Dalam Matius 10:24–39, Yesus mengutus para murid untuk memberitakan Injil ke kota-kota Israel. Namun, Ia tidak menjanjikan perjalanan yang mudah. Para murid akan menghadapi penolakan, fitnah, penganiayaan, bahkan perpecahan dalam keluarga. Meski demikian, Tuhan tidak pernah mengutus tanpa memperlengkapi. Di tengah tantangan itu, Tuhan menyediakan logistik “sorgawi” agar mereka mampu bertahan dan tetap setia dalam panggilan. Logistik ini bukan sekadar kekuatan manusia, melainkan penyertaan Allah yang meneguhkan hati orang percaya ketika menghadapi risiko, penderitaan, dan penolakan dalam pelayanan sehari-hari nyata.
Logistik sorgawi yang pertama adalah keberanian menghadapi ketakutan. Beberapa kali Yesus berkata, “Jangan takut.” Hal ini menunjukkan bahwa para murid akan berhadapan dengan keadaan yang menakutkan. Dalam kehidupan orang percaya, ketakutan juga sering menjadi hambatan untuk mengikut Tuhan. Kita bisa takut ditolak, gagal, kehilangan, menderita, atau menghadapi masa depan. Karena itu, Yesus mengingatkan tentang burung pipit yang tetap dipelihara Allah. Jika burung kecil saja diperhatikan-Nya, terlebih lagi orang percaya yang berharga di hadapan-Nya. Keyakinan ini memberi keberanian untuk tetap taat.
Logistik sorgawi yang kedua adalah jaminan pengakuan dari Kristus. Yesus berkata bahwa setiap orang yang mengakui Dia di depan manusia akan diakui-Nya di depan Bapa di sorga. Para murid mungkin ditolak, dicemooh, dan dianiaya oleh dunia, tetapi Kristus tetap mengenal serta mengakui mereka sebagai milik-Nya. Janji ini menguatkan kita ketika pelayanan, kesetiaan, dan pengorbanan tidak dihargai manusia. Tuhan melihat setiap jerih lelah yang dilakukan bagi-Nya.
Logistik sorgawi yang ketiga adalah pengharapan kekal. Yesus berkata bahwa siapa pun yang tidak memikul salib dan mengikut Dia tidak layak bagi-Nya. Mengikut Kristus membutuhkan komitmen, pengorbanan, dan penyerahan diri. Ada kenyamanan yang harus dilepaskan dan kehendak pribadi yang harus diserahkan kepada Tuhan. Namun, Yesus berjanji bahwa siapa yang kehilangan nyawanya karena Dia akan memperolehnya. Artinya, pengorbanan demi Kristus tidak pernah sia-sia.
Karena itu, ketika tubuh lelah, pelayanan terasa berat, dan keadaan tidak sesuai harapan, tetaplah bertahan dalam iman. Tuhan menyediakan keberanian, pengakuan, dan pengharapan kekal untuk menyelesaikan misi-Nya sampai akhir.
Tidak ada jadwal kegiatan untuk satu minggu ke depan.