Dunia Tanpa Tuhan
Yohanes 20:19-31Apa yang dimaksud “Dunia Tanpa Tuhan?” ini bukanlah sekedar penolakan dogmatis terhadap keberadaan Allah, melainkan kondisi eksistensial manusia yang terperangkap dalam ketakutan, isolasi, keraguan dan kehilangan arah. Yohanes 20:19-31 menggambarkan “Dunia Tanpa Tuhan” bukanlah sebagai ruang kosong tetapi sebagai ruang yang dikunci sendiri oleh trauma pasca salib. “Dunia Tanpa Tuhan” juga merupakan kondisi eksistensial dimana manusia hidup dalam ketakutan yang melumpuhkan, penguncian diri, keraguan yang menuntut bukti dan ketiadaan damai sejahtera sejati. Hal ini pernah dialami para murid yang takut mati, Thomas yang sinis atau jemaat yang nampak sibuk berjaga-jaga namun hatinya terpenjara, hal ini ini bisa dialami oleh siapapun dan dimanapun, Dunia Tanpa Tuhan bukanlah dunia tanpa Gereja, tetapi tempat tanpa kehadiran Kristus yang nyata di tengah ketakutan, Lalu apa jadinya?1. Ketakutan itu mengunci dan melumpuhkan (19)Para murid dipenuhi oleh ketakutan yang mengunci, mereka takut terhadap ancaman demi ancaman orang Yahudi, hidup dalam kecemasan, kekhawatiran, hidup dalam rasa tidak aman sehingga membuat mereka berkumpul di tempat tertutup rapat dan mengunci pintu-pintu tersebut. Dunia mereka serasa runtuh. Yesus yang mereka harapkan sudah mati. Seolah-olah tidak ada harapan lagi dalam hidup mereka. Apakah saat ini saudara dan saya juga sedang dalam ketakutan yang melumpuhkan dan mengunci, takut akan masa depan, takut kekurangan, takut karena kegagalan, takut karena kehilangan, takut di nilai, takut mati, takut sakit, takut ditinggalkan? Pintu-pintu yang terkunci ini adalah makam kita. Tuhan sanggup menembusnya.2. Hidup tanpa Damai Sejahtera (19-21)Dunia tanpa Tuhan tidak akan mengenal damai sejahtera, ia hanya punya dua pilihan, melawan atau mati rasa. Sebab dunia tanpa damai sejahtera adalah kehidupan yang terus berjalan di bawah bayang-bayang ancaman, ketakutan, kekhawatiran dan ketidakpastian, sehingga hati manusia dipenuhi kegelisahan dan kehilangan arah karena tidak mengalami kehadiran Tuhan yang memberi rasa aman dan ketenangan pribadi. Namun Tuhan sanggup memberi damai sejahtera saat Dia hadir, dia bisa hadir secara tiba-tiba dan mengejutkan, Ia hadir tanpa terhalang tembok maupun pintu terkunci, ada invasi damai sejahtera untuk merebut, mengubah kondisi yang mencekam, terkunci ancaman dan ketakutan menjadi damai sejahtera.3. Iman menjadi buta (24-29)Dunia tanpa Tuhan mengajarkan bahwa iman itu buta atau bukti dianggapnya satu-satunya jalan. Thomas adalah salah satu yang memegang pola pikir tersebut. Yesus tidak menghardik keraguan Thomas, ia malah mengundang Thomas untuk menyentuh luka-Nya, tetapi kemudian Dia berkata, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya.” Keraguan memang bukanlah dosa, tetapi ketika menghidupi keraguan maka keraguan itu akan menjadi gaya hidup yang melemahkan, sebab iman bukan tanpa pertanyaan, tetapi tetap percaya kepada pribadi bahkan ketika semua pertanyaan tidak semuanya terjawab.4. Dunia tidak akan pernah bisa mengampuni (23)Dunia tanpa Tuhan adalah dunia yang terkunci karena takut, tanpa damai sejati, tanpa iman yang hidup, tanpa kuasa mengampuni. Namun Yohanes 20 menunjukkan bahwa Kristus yang bangkit menembus semua tembok. Ia datang dengan shalom yang mahal, Ia mengubah Thomas yang skeptis menjadi penyembah dengan pengakuan “ya Tuhanku dan Allahku”, Ia menghembuskan Roh untuk menjadikan kita gereja yang mengampuni dan siap diutusNya. Jangan lagi kita bertanya, Dimana Tuhan? Tapi jawablah, ya Tuhanku dan Allahku, bukan karena kita telah melihat semua bukti, tetapi karena ita telah mengalami kehadiranNya ditengah ketakutan kita. Sekarang keluarlah dari ruang ketakutan yang terkunci dan jadilah berkat. Amin. Tuhan memberkati