Bacaan: 2 Korintus 13:11–14
Minggu Trinitas mengajak kita merenungkan siapa Allah yang kita sembah: Allah yang esa, namun menyatakan diri sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Dalam 2 Korintus 13:11–14, Rasul Paulus menutup suratnya dengan sebuah nasihat dan berkat yang sangat kaya akan makna trinitaris.
Paulus terlebih dahulu mengajak jemaat untuk “bersukacita, memperbaiki diri, sehati sepikir, dan hidup dalam damai.” Nasihat ini bukan sekadar tuntutan moral. Paulus memahami bahwa kehidupan yang penuh damai dan kasih hanya mungkin terjadi ketika manusia hidup dalam relasi yang benar dengan Allah. Menariknya, setelah memberikan nasihat tersebut, Paulus menegaskan bahwa “Allah sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu.” Artinya, damai bukan pertama-tama hasil usaha manusia, melainkan buah dari kehadiran Allah sendiri.
Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus mengingatkan kita pada pengorbanan Kristus di salib. Kita diselamatkan bukan karena kelayakan kita, melainkan karena anugerah-Nya. Kasih Allah Bapa menunjukkan sumber dari seluruh rencana keselamatan. Allah mengasihi dunia bahkan ketika dunia masih berada dalam dosa. Sementara itu, persekutuan Roh Kudus berbicara tentang kehadiran Allah yang terus bekerja di tengah kehidupan orang percaya, mempersatukan, menghibur, membimbing, dan memperbarui.
Banyak manusia yang hidup di luar Tuhan, memahami bahwa kebahagiaan hidup ini diperoleh dari dunia, pada besar dan jumlah yang kita peroleh pada status dan kedudukan yang diperoleh dalam pemahaman yang demikian ini manusia kemudian menjadikan dirinya sebagai pusat kehidupan manusia kemudian melupakan Tuhan. Namun, pada hakikatnya segala keberhasilan kita bukan hanya hasil jerih payah kita atau karena “kebetulan” saja. Allah-lah yang menganugerahkan berkat-berkat-Nya bagi kita.
Puncak bagian ini terdapat pada ayat 14 yang sering digunakan sebagai berkat penutup dalam ibadah: “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.” Di sini kita melihat gambaran indah tentang karya Allah Tritunggal.
Menarik untuk disadari bahwa kehidupan Allah Tritunggal sendiri adalah kehidupan yang penuh relasi, kasih, dan kesatuan. Karena itu, ketika gereja dipanggil untuk hidup dalam damai dan sehati sepikir, gereja sebenarnya sedang dipanggil untuk mencerminkan kehidupan Allah yang disembahnya. Dunia yang dipenuhi perpecahan, polarisasi politik, konflik sosial, dan sikap saling curiga membutuhkan kesaksian tentang komunitas yang hidup dalam kasih dan persekutuan.
Pada Minggu Trinitas ini, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah hidup kita mencerminkan kasih karunia Kristus, kasih Bapa, dan persekutuan Roh Kudus? Apakah kehadiran kita membawa damai atau justru memperbesar perpecahan?
Kiranya berkat Allah Tritunggal tidak hanya kita dengar pada akhir ibadah, tetapi juga kita hidupi setiap hari. Sebab ketika kasih karunia Kristus, kasih Bapa, dan persekutuan Roh Kudus menjadi nyata dalam hidup kita, dunia akan melihat secercah gambaran tentang Allah yang hidup dan bekerja di tengah umat-Nya.
Tidak ada jadwal kegiatan untuk satu minggu ke depan.