Loading...

Bijak Menghadapi Konflik

Ibu Margaritifera Listyakusumadewi 11 Oct 2026

Filipi 4:1-9

Konon, Nasaruddin Hoja pernah diminta menjadi penengah dalam sebuah pertengkaran. Ia mendengarkan orang pertama berbicara panjang lebar, lalu berkata, “Kamu benar.” Setelah itu, ia mendengarkan orang kedua dan berkata, “Kamu juga benar.” Seseorang yang menyaksikan kejadian itu protes, “Tidak mungkin keduanya benar!” Nasaruddin pun menjawab, “Kamu juga benar!”

Kisah humor ini mengingatkan kita bahwa dalam konflik, setiap orang sering merasa dirinya paling benar. Kita mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi sulit memahami apa yang sesungguhnya terjadi dari sudut pandang yang berbeda. Kebijaksanaan bukan sekadar kemampuan menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah, melainkan kesediaan untuk melihat persoalan dengan jernih dan meresponsnya secara tepat.

Di zaman ini, kita menghadapi tekanan sosial yang tinggi. Lingkungan kerja yang tidak bersahabat, persoalan keluarga, ketegangan dalam komunitas, hingga perbedaan pendapat di gereja dapat membuat kita mudah tersinggung dan sulit memaafkan. Belum lagi polusi pikiran dari gosip, berita negatif, komentar buruk, dan konten beracun yang kita konsumsi setiap hari. Tanpa disadari, pikiran yang terus-menerus dipenuhi hal negatif dapat memengaruhi perasaan, perkataan, dan tindakan kita. Akibatnya, persoalan kecil pun dapat berkembang menjadi konflik besar.

Paulus dalam Filipi 4:2 secara khusus meminta Euodia dan Sintikhe supaya sehati sepikir dalam Tuhan. Paulus tidak mengabaikan konflik mereka, tetapi juga tidak mempermalukan salah satu pihak atau memihak salah satunya. Ia mengajak mereka untuk mencari kesatuan di dalam Tuhan dan meminta bantuan rekan seiman untuk mendamaikan mereka. Ini menunjukkan bahwa kedewasaan iman bukan berarti kita tidak pernah berkonflik, melainkan bagaimana kita mengelola konflik dengan bijaksana.

Paulus kemudian mengingatkan, “Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang” (ayat 5). Kata “kebaikan hatimu” dalam bahasa aslinya adalah epieikes yang berarti kelembutan, sikap yang tidak kaku, dan kesediaan untuk tidak memaksakan kehendak sendiri. Dalam konflik, kita tidak harus selalu memenangkan perdebatan. Ada kalanya kita perlu mendengarkan lebih dahulu, menahan diri sebelum membalas, atau mengakui bahwa kita mungkin keliru. Bersikap lembut bukan berarti membenarkan kesalahan, melainkan memilih cara yang tidak memperkeruh keadaan.

Paulus juga mengajak jemaat membawa segala kekhawatiran kepada Allah dalam doa (ayat 6-7). Ketika emosi sedang tinggi, kita perlu memberi ruang bagi diri sendiri untuk berhenti, berdoa, dan menenangkan hati sebelum mengambil tindakan. Selanjutnya, ayat 8 mengajak kita memikirkan segala sesuatu yang benar, mulia, adil, suci, manis, dan patut dipuji. Artinya, kita perlu menjaga apa yang masuk ke dalam pikiran. Tidak semua informasi perlu dipercaya, tidak semua gosip perlu diteruskan, dan tidak semua komentar perlu ditanggapi. Pikiran yang sehat menolong kita menghasilkan respons yang sehat pula.

Nelson Mandela, setelah menghabiskan 27 tahun di penjara karena perjuangannya melawan apartheid, akhirnya keluar dan menjadi presiden Afrika Selatan. Ia bisa saja membalas dendam kepada mereka yang dahulu menindasnya, namun ia memilih memaafkan. Sikapnya tidak berarti menganggap ketidakadilan sebagai sesuatu yang wajar, melainkan menunjukkan bahwa masa depan tidak harus dikendalikan oleh luka masa lalu.

Konflik memang tidak selalu dapat kita hindari. Namun, kita dapat memilih bagaimana menyikapinya. Mari belajar mendengar sebelum menghakimi, berdoa sebelum bereaksi, dan berpikir jernih sebelum berbicara. Ketika konflik melibatkan orang lain, jangan buru-buru menjadi penyebar gosip atau hakim yang memperkeruh suasana. Jadilah pembawa damai yang berani menolong dengan bijaksana.

Sebab, seperti pesan Paulus dalam Filipi 4:9, Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kita. Kebijaksanaan menghadapi konflik dimulai ketika kita berhenti membiarkan emosi menguasai diri dan memberi ruang bagi damai sejahtera Kristus untuk menuntun tindakan kita.


Kembali ke Daftar

Social Media

Warta Terbaru

WARTA JEMAAT 11 Oct 2026

Kegiatan Sepekan

Tidak ada jadwal kegiatan untuk satu minggu ke depan.