Filipi 3:4–14
Seringkali kita mendamba untuk memiliki suatu unit rumah dengan alasan stabilitas dan keamanan. Tanpa memiliki unit rumah, maka stabilitas keluarga terasa kurang lengkap. Ada orang yang memiliki unit rumah yang secara fisik lengkap, namun malah justru secara emosional terasa kosong dan asing. Ada meja makan, namun jarang digunakan dan tak ada percakapan di meja makan. Ada orang tua dan anak, namun masing-masing sibuk dengan dunianya sendiri. Ada keluarga yang tinggal serumah, tetapi setiap perjumpaan justru terasa seperti sedang menghadapi pemeriksaan: “Mengapa nilaimu turun?”, “Kapan menikah?”, “Mengapa belum punya pekerjaan tetap?”, “Kenapa hidupmu tidak seperti anak orang lain?”
Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang dan berteduh, tempat yang menghadirkan rasa aman dan nyaman; malah perlahan berubah menjadi ruang sidang. Setiap orang datang bukan untuk diterima, melainkan untuk dinilai.
Filipi 3 memperlihatkan sesuatu yang menarik tentang Paulus. Ia mempunyai banyak alasan untuk membanggakan dirinya: keturunan yang baik, identitas keagamaan yang kuat, pengalaman sebagai orang Farisi, dan kehidupan yang menurut ukuran Taurat tidak bercacat. Ia memiliki “rekam jejak” yang membuatnya layak mendapatkan pengakuan publik. Namun kemudian Paulus mengatakan bahwa semua yang dahulu dianggap sebagai keuntungan, kini dianggap rugi karena Kristus. Ia tidak lagi menjadikan pencapaian, identitas, dan kesempurnaan prestasi pribadinya sebagai dasar untuk menentukan nilai dirinya.
Bukankah keluarga kita sering melakukan sebaliknya?
Kita menilai seseorang berdasarkan prestasi. Anak yang berprestasi lebih mudah dibanggakan. Saudara yang sukses lebih sering didengar. Menantu yang mapan lebih mudah diterima. Sebaliknya, anggota keluarga yang gagal, bercerai, menganggur, belum menikah, terlambat mencapai sesuatu, atau mengambil jalan hidup yang berbeda sering menjadi objek nasihat, perbandingan, bahkan penghakiman.
Padahal Filipi 3 mengingatkan bahwa nilai manusia tidak berhenti pada daftar pencapaiannya.
Paulus akhirnya berkata bahwa ia ingin “mengenal Kristus” dan “menjadi serupa dengan Dia” (ay. 10). Pusat kehidupan Paulus bukan lagi bagaimana ia terlihat baik di hadapan orang lain, melainkan bagaimana dinamika relasinya dengan Kristus.
Demikian pula keluarga Kristen. Rumah bukan tempat untuk terus-menerus menghitung kesalahan, mengungkit kegagalan, dan membandingkan satu anggota dengan anggota lainnya. Rumah semestinya menjadi tempat seseorang dapat berkata:
“Aku boleh gagal di sini, tetapi aku tidak akan kehilangan tempat untuk pulang.”
Tentu, rumah bukan berarti tempat yang membenarkan semua kesalahan. Kasih juga berani menegur, mengoreksi, dan mengarahkan. Tetapi teguran dalam kasih berbeda dari penghakiman. Teguran berkata, “Mari kita perbaiki ini bersama.” Penghakiman berkata, “Kamu memang selalu seperti itu.”
Paulus sendiri mengatakan bahwa ia belum sempurna. Ia masih “mengejarnya” dan terus bergerak menuju tujuan (ay. 12–14). Jika Paulus berani mengakui bahwa dirinya masih dalam proses, bukankah keluarga juga perlu memberikan ruang bagi setiap anggotanya untuk bertumbuh?
Bulan Keluarga ini mengajak kita untuk bertanya:
Ketika anggota keluarga kita pulang, apakah mereka menemukan rumah—atau ruang sidang?
Kiranya rumah kita menjadi tempat di mana kesalahan dapat diperbaiki, luka dapat dipulihkan, perbedaan dapat dibicarakan, dan setiap orang menemukan keberanian untuk terus bertumbuh secara otentik.
Sebab pada akhirnya, rumah bukan tempat orang-orang sempurna berkumpul. Rumah adalah tempat orang-orang yang belum sempurna untuk belajar mengasihi, mengampuni, dan bertumbuh bersama.
Tidak ada jadwal kegiatan untuk satu minggu ke depan.