Matius 21:23-32
Fenomena hari ini adalah manusia hidup dalam era banjir informasi. Kita tahu banyak hal. Kita tahu cara hidup sehat, tetapi tetap saja mengonsumsi makanan tidak sehat. Kita tahu bahaya korupsi, namun tetap saja melakukannya selama ada kesempatan. Dalam konteks iman, kita tahu bahwa kita harus mengasihi, mengampuni, dan taat, tetapi sering kali kita lebih memilih untuk tidak melakukannya. Kita tahu apa yang Tuhan inginkan; kita tahu bagaimana seorang Kristen hidup, berbisnis, dan melayani. Namun, ada sebuah krisis besar yang menggerogoti gereja dan dunia saat ini, yakni: “Tahu belum tentu mau.”
Mengapa tema ini penting? Bagi gereja, tema ini membongkar topeng kemunafikan rohani. Bahaya terbesar orang Kristen bukan ketidaktahuan akan Firman, melainkan ilusi bahwa mengetahui Firman seolah-olah sudah sama dengan melakukan Firman. Bagi dunia, dunia tidak membutuhkan orang yang pandai mengutip ayat Alkitab, namun tidak memiliki kasih yang nyata.
Perikop ini terjadi pada minggu terakhir Yesus di Yerusalem, tepatnya setelah Yesus menyucikan Bait Allah. Ini adalah momen ketegangan yang memuncak. Para imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi datang kepada Yesus bukan untuk belajar, tetapi untuk menjebak dan mempertanyakan otoritas-Nya. Mereka adalah para ahli Taurat yang “tahu” segala sesuatu tentang hukum Musa dan nubuat para nabi. Mereka tahu bahwa Yesus melakukan mukjizat, tetapi mereka menolak otoritas Ilahi-Nya karena takut kehilangan status dan pengaruh di hadapan orang banyak.
Yesus merespons dengan sebuah perumpamaan tentang dua orang anak yang disuruh bekerja di ladang kebun anggur ayah mereka. Kebun anggur dalam Perjanjian Lama sering kali menjadi simbol bangsa Israel. Ayah dalam perumpamaan ini merepresentasikan Allah. Anak pertama awalnya menolak, tetapi kemudian menyesal lalu pergi bekerja. Anak kedua menjawab dengan sopan, “Ya, saya mau,” tetapi tidak pergi. Yesus kemudian bertanya, siapakah yang melakukan kehendak ayah? Jawabannya adalah anak pertama.
Yesus menutup perumpamaan ini dengan pukulan telak: para pemungut cukai dan pelacur akan mendahului para pemimpin agama untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Mengapa? Karena mereka mendengar Yohanes Pembaptis, mereka tahu, lalu bertobat. Sedangkan para pemimpin agama Yahudi “tahu”, tetapi “tidak mau” percaya dan bertobat.
Dunia dan gereja tidak membutuhkan lebih banyak orang yang hanya sekadar “tahu”. Dunia sedang haus akan orang-orang yang “mau” melakukan kehendak Allah. Biarlah kita tidak ditemukan sebagai anak yang pandai berkata, “Ya, Tuhan,” tetapi diam di tempat. Sebaliknya, biarlah kita menjadi anak-anak yang, oleh anugerah-Nya, berbalik dan bangkit melangkah melakukan kehendak Bapa di Surga.
Amin. Tuhan memberkati.
Tidak ada jadwal kegiatan untuk satu minggu ke depan.