Loading...

Si Paling Layak

Pdt. Sujanto Putro Waskito Wibowo 20 Sep 2026

Yunus 3:10-4:11

Di era media sosial dan dunia yang makin terpolarisasi saat ini, kita sering menemui fenomena "si paling benar", yaitu sikap yang merasa diri, kelompok, atau pandangannya paling murni, paling suci, sehingga merasa paling berhak menghakimi orang lain. Menariknya, kecenderungan ini bukanlah hal baru. Ribuan tahun lalu, Nabi Yunus telah memperagakan jebakan mental yang sama.

Ketika masyarakat Niniwe—bangsa asing yang dianggap jahat—bertobat dan Allah membatalkan hukuman-Nya, Yunus justru jengkel dan marah besar. Mengapa Yunus marah atas karya pengampunan Allah? Karena keputusan Allah tidak sesuai dengan standar keadilan versi Yunus. Dalam benak Yunus, Niniwe adalah "pihak luar" yang sudah sepantasnya dihukum. Yunus terjebak dalam self-righteousness (merasa diri paling benar) hingga merasa berhak mendikte siapa yang layak menerima belas kasih Tuhan dan siapa yang tidak.

Melalui peristiwa pohon jarak yang tumbuh lalu layu, Allah membongkar kerapuhan sikap Yunus. Yunus begitu sedih dan marah ketika kenyamanan pribadinya—penutup kepala berupa pohon jarak—hilang. Namun, ia dingin dan tanpa empati terhadap keselamatan lebih dari 120.000 jiwa manusia di Niniwe. Allah menelanjangi kesombongan rohani Yunus: betapa janggalnya ketika manusia lebih mencintai standar dan kenyamanan diri sendiri ketimbang jiwa-jiwa yang dicintai Allah.

Kisah ini menjadi teguran tajam bagi kita sebagai gereja dan orang percaya hari ini. Sangat mudah bagi kita untuk menghakimi dunia dari balik tembok gereja, merasa diri sebagai "si paling benar", dan mengharapkan penderitaan bagi mereka yang berbeda pandangan, gaya hidup, atau latar belakang dengan kita. Kita kerap lupa bahwa keberadaan kita hari ini semata-mata karena anugerah dan belas kasih Allah, bukan karena kehebatan kita.

Melalui karya Kristus di kayu salib, Allah merobohkan tembok pemisah dan menunjukkan belas kasih-Nya yang inklusif. Kristus tidak datang untuk membenarkan orang yang merasa dirinya paling benar, melainkan untuk memanggil orang berdosa agar bertobat.

Mari kita meninggalkan sikap "si paling benar" dan menggantinya dengan kerendahan hati. Kiranya gereja kita menjadi komunitas yang memancarkan empati, menghadirkan pemulihan, dan merangkul sesama dengan mata belas kasih Allah. Amin.


Kembali ke Daftar

Social Media

Warta Terbaru

WARTA JEMAAT 20 Sep 2026

Kegiatan Sepekan

Tidak ada jadwal kegiatan untuk satu minggu ke depan.