Kisah Para Rasul 7:55-60
Dunia yang kita tinggali saat ini sering kali terasa seperti medan tempur yang riuh. Kita dikepung oleh berbagai "lemparan batu" modern berupa krisis ekonomi, perang yang mencemaskan, hingga tekanan kompetisi dan individualisme yang membuat kita kehilangan arah dan makna hidup. Dalam kebisingan di era digital ini, sangat mudah bagi kita untuk merasa cemas, reaktif, dan akhirnya kehilangan pijakan iman. Kisah martir pertama, Stefanus, dalam Kisah Para Rasul 7:55-60, menawarkan sebuah sudut pandang yang berbeda dan sungguh menguatkan dalam menyikapi “lemparan batu-batu” persoalan yang datang di hidup kita.
Di tengah amukan massa yang siap merenggut nyawanya, Stefanus tidak fokus pada batu-batu yang melayang ke arahnya. Ayat 55 mengatakan, "Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah.” Menurut kata aslinya, “menatap” (atenizo) bukanlah sekadar melihat secara fisik, melainkan mengarahkan kesadaran dan fokusnya sepenuhnya kepada Yesus yang berdiri di sebelah kanan Allah. Di tengah hujan lemparan batu yang menyakitkan, Stefanus tidak memfokuskan matanya pada batu-batu itu atau pada wajah-wajah penuh amarah di sekelilingnya. Ia mengarahkan pandangannya ke atas. Stefanus menunjukkan bahwa iman yang tahan uji adalah iman yang menolak untuk menyerahkan kesadarannya kepada suara-suara yang paling keras atau ancaman yang paling menakutkan. Dengan mengarahkan pandangan kepada Yesus, Stefanus dibebaskan dari ketakutan dan keinginan untuk membalas dendam.
Dalam kehidupan kita, terkadang persoalan menjadi begitu besar karena kita terlalu lama menatapnya. Kita menatap "batu" persoalan ekonomi kita, kita menatap "batu" konflik keluarga kita, hingga kita lupa bahwa di atas segalanya, ada Tuhan yang bertahta. Iman yang tahan uji dimulai dari keberanian untuk mengalihkan pandangan dari krisis kepada Kristus.
Saat ini mungkin ada diantara kita yang merasa lelah dengan tekanan hidup atau cemas dengan masa depan. Ingatlah, iman tidak menjanjikan pembebasan dari badai, tetapi iman menjanjikan ketenangan di tengah badai. Ketidakpastian dan berbagai kecemasan terkait dengan carut-marutnya kondisi dunia saat ini mungkin masih akan terus ada. Namun, jika kita dipenuhi oleh Roh Kudus seperti Stefanus, kita akan memiliki sudut pandang yang berbeda terhadap segala persoalan hidup kita. Kita tidak akan hancur oleh tekanan dunia yang kompetitif. Kita tidak akan reaktif dan mudah marah pada sikap orang lain atau situasi tidak menyenangkan yang menimpa kita karena kita mempertahankan iman kita di dalam Tuhan. Kita tidak akan kehilangan arah karena langkah kita dipandu oleh janji-Nya.
Mari kita bangun iman yang tahan uji. Bukan iman yang hanya ada saat berkat melimpah, melainkan iman yang tetap menatap ke langit saat "batu-batu" persoalan berdatangan menimpa kita. Alih-alih terpaku pada “batu-batu” persoalan, arahkanlah pandangan kita kepada Yesus. Di sana, kita akan menemukan kekuatan untuk tidak hanya sekadar bertahan, tetapi juga untuk membawa kedamaian dan pengampunan di tengah dunia yang sedang terluka. Yesus berdiri menyambut kita, memberikan kepastian bahwa di dalam Dia, perjuangan kita tidak akan pernah sia-sia.
Tidak ada jadwal kegiatan untuk satu minggu ke depan.