Yeremia 15:15–21
Ada suatu fase kehidupan dimana kita harus menjalani suatu skenario yang kita sendiri menyadari betapa hal itu akan terasa berat; namun kita tak dapat mengelaknya bahkan harus menjalani dengan tabah. Situasi itu tak ubahnya seperti fase kehidupan ikan salmon saat hendak bertelur. Ikan salmon adalah ikan laut hidup di lautan bebas. Ikan yang sepanjang hidupnya berada di laut lepas itu justru akan kembali ke sungai-sungai air tawar di pegunungan untuk bertelur. Perjalanannya tidak mudah. Ia harus melawan arus, melompat melewati bebatuan, bahkan menghadapi ancaman predator. Tidak jarang ia gagal melompat dan tergeletak tak berdaya. Namun ia terus berusaha, karena ia tahu ada kehidupan baru yang harus diperjuangkan.
Begitu juga kehidupan kita. Ketika mengejar sesuatu yang baik dan benar, rasa takut, cemas, ragu, bahkan gemetar adalah hal yang manusiawi. Persoalannya bukan apakah kita pernah takut, melainkan apakah ketakutan itu membuat kita berhenti.
Yeremia memahami hal itu. Selama bertahun-tahun ia menyampaikan peringatan Tuhan kepada bangsa Yehuda. Namun sedikit yang mau mendengarkan. Ia justru ditolak, dicela, diserang, bahkan diancam dibunuh. Yeremia tahu bahwa hukuman Tuhan atas Yehuda melalui Babel tidak mungkin dihindari. Ia harus menyampaikan kebenaran, sekalipun kebenaran itu menyakitkan dan ia sendiri harus menyaksikan kehancuran Yerusalem dan Bait Allah.
Karena tekanan yang begitu berat, Yeremia pernah merasa putus asa. Ia mengeluh kepada Tuhan dan mengungkapkan kemarahan, kekecewaan, serta pergumulannya secara terbuka. Namun ia tidak meninggalkan Tuhan. Justru di tengah kegentarannya, Tuhan kembali meneguhkan janji penyertaan dan perlindungan-Nya.
Di sinilah kita belajar: Tuhan tidak menuntut kita untuk tidak pernah gemetar. Tuhan hanya menghendaki agar kita tidak menyerah.
Kita pun sering gemetar menghadapi pekerjaan, keluarga, kesehatan, masa depan, pelayanan, atau berbagai persoalan hidup. Bahkan orang yang percaya kepada Tuhan tetap bisa takut. Yesus sendiri di Getsemani mengalami ketakutan dan kegentaran.
Bayangkan seorang anak kecil yang baru belajar berjalan. Kakinya gemetar. Ia jatuh berkali-kali, menangis, lalu mencoba lagi. Mengapa ia berani bangkit? Karena ada tangan ayahnya yang memegang dan menunggunya.
Demikian pula kita. Kita boleh gemetar, tetapi tidak perlu gentar, sebab Tuhan memegang tangan kita. Kekuatan kita bukan terletak pada keberanian kita sendiri, melainkan pada Dia yang menyertai kita.
Karena itu, tetaplah berdiri di pihak kebenaran. Tetaplah melangkah meskipun hati bergetar. Sebab bersama Tuhan, perjalanan yang penuh bahaya sekalipun pada akhirnya akan membawa kita menuju pelabuhan yang aman.
Tidak ada jadwal kegiatan untuk satu minggu ke depan.