(Teks utama: Keluaran 12:1-14)
Ada kalanya kepedulian Tuhan tampil dalam wujud yang tidak sederhana. Di dalam Keluaran 12, Tuhan memberikan petunjuk yang sangat rinci kepada Musa dan Harun: pilihlah seekor anak domba yang tidak bercela, sembelihlah pada waktu yang ditentukan, dan oleskanlah darahnya pada ambang pintu. Semua ini diberikan bukan tanpa alasan, melainkan sebagai jalan keselamatan bagi umat yang selama bertahun-tahun hidup dalam penindasan.
Sebab sesungguhnya, penindasan yang dialami Israel bukanlah peristiwa sesaat. Kerja paksa, perbudakan, bahkan pembunuhan terhadap bayi-bayi Ibrani (Kel 1:15-22), telah berlangsung begitu lama sehingga seolah-olah dianggap sebagai keadaan yang wajar. Ketidakadilan yang dibiarkan terus-menerus cenderung kehilangan wajah aslinya sebagai ketidakadilan; ia menyamar sebagai tatanan yang mapan, dijaga oleh mereka yang berkuasa dan diterima begitu saja oleh yang lain.
Malam Paskah pertama itu menjadi titik ketika kenyataan yang tersembunyi itu disingkapkan. Tuhan tidak hadir sebagai pengamat yang berdiri netral di atas pertikaian antara penguasa dan yang tertindas. Ia menyatakan diri sebagai Allah yang berpihak. Dan Allah memilih pihak mereka yang berseru dalam perbudakan, bukan pihak mereka yang menikmati kekuasaan.
Di titik inilah darah domba mendapatkan maknanya. Ia bukan sekadar lambang yang pasif, melainkan tanda keterlibatan aktif umat dalam keselamatan yang Tuhan kerjakan. Israel tidak hanya menerima janji perlindungan; mereka diminta memilih, menyembelih, dan mengoleskan darah itu dengan tangan mereka sendiri. Kepedulian Tuhan, dengan demikian, tidak menjadikan umat-Nya pasif menanti, melainkan mengundang mereka untuk turut ambil bagian, yaitu dengan menandai rumah mereka sebagai rumah yang berpihak pada kehidupan.
Bagi kita yang pernah merasakan ketidakadilan, baik yang nyata di depan mata maupun yang tersembunyi di balik keadaan yang tampak biasa, firman ini menyampaikan dua kebenaran. Pertama, perhatian Tuhan selalu mendahului pertolongan-Nya yang kelihatan. Jauh sebelum tulah terakhir terjadi, Ia telah berfirman, “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku” (Kel 3:7). Kedua, kepedulian-Nya bukanlah kepedulian yang membiarkan umat-Nya berdiam diri. Ia mewujudkan kepedulian yang membebaskan, yang memanggil umat-Nya untuk bangkit, memilih pihak kehidupan, dan turut melawan segala bentuk kekerasan yang selama ini dibiarkan tidak bersuara.
Darah di ambang pintu malam itu menjadi kesaksian: Tuhan telah melihat, Tuhan telah memilih, dan Ia memanggil umat-Nya untuk bangkit bersama-Nya menuju kehidupan yang baru.
Tidak ada jadwal kegiatan untuk satu minggu ke depan.