Kejadian 50:15-21
Setiap manusia memiliki masa lalu. Ada yang indah, namun tidak sedikit juga yang kelam: rasa luka, pengkhianatan, penolakan, atau rasa bersalah yang terus menghantui. Hantu masa lalu merupakan metafora untuk menggambarkan kuasa kenangan traumatis yang terus menuntut, mengintimidasi, dan membelenggu seseorang di masa kini. Dalam hal ini, banyak hal yang menawarkan solusi dangkal berupa melupakan, membalas, atau membenarkan diri.
Gereja perlu belajar dari Kejadian 50:15–21 tentang bagaimana seseorang bisa hidup bebas dari hantu masa lalu, bukan dengan cara menyangkal, tetapi dengan cara menafsirkan ulang seluruh hidupnya di bawah kedaulatan Allah. Dunia perlu mendengar bahwa ada jalan keluar dari penjara masa lalu yang tidak berujung pada kepahitan atau pembalasan. Yusuf adalah buktinya. Ada beberapa langkah untuk bebas dari hantu masa lalu:
1. Melihat: Mengakui realitas hantu masa lalu (ayat 15–17)
Saudara-saudara Yusuf melihat bahwa ayah mereka telah mati dan prosesi pemakaman telah usai. Yusuf dan saudara-saudaranya kembali ke Mesir untuk hidup dalam kemakmuran. Namun, kematian ayah mereka membuka kembali luka lama (ayat 15). Mereka masih takut. Dua puluh dua tahun setelah menjual Yusuf, rasa bersalah itu belum hilang. Ayah sebagai pelindung mereka telah tiada. Selama Yakub hidup, mereka merasa aman. Kematian ayah mereka seolah menelanjangi keberadaan jiwa mereka. Mereka mengakui ketakutan dengan mengungkapkan pemikiran bahwa Yusuf pasti membalas dendam.
2. Mereka-rekakan: Menafsirkan ulang masa lalu di bawah kedaulatan Allah (ayat 18–20)
Yusuf tidak menyangkal kejahatan saudara-saudaranya. Ia berkata, “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan.” Sejarah masa lalu memang tidak berubah, tetapi Tuhan dapat menebus dan mengubah maknanya.
3. Menghiburkan: Memulihkan relasi yang rusak di masa lalu (ayat 21)
Yusuf tidak berhenti pada pengampunan verbal. Ia menghiburkan, menopang, mengasihi, mengampuni, dan berbicara dari hati ke hati kepada mereka. Akhirnya, relasi mereka dipulihkan. Yusuf memang menangis, namun tangisan tersebut bukanlah respons hati yang mendendam atau kesedihan karena sakit hati, melainkan air mata yang menandakan bahwa hatinya dilembutkan oleh pengampunan.
Yusuf adalah tipe Kristus. Ia merupakan korban yang tidak menuntut balas, yang mengubah kejahatan menjadi kebaikan, dan yang memelihara hidup banyak orang. Tetapi, Yusuf bukanlah Kristus. Yusuf menangis; ia tetaplah manusia biasa yang hatinya dilembutkan Allah.
Salib Kristus adalah jawaban akhir atas setiap hantu masa lalu manusia. Mari kita berhenti menjadi pengganti Allah atas hidup kita sendiri. Letakkan hantu masa lalu di bawah kaki Kristus. Mari kita hidup sebagai orang-orang yang telah dibebaskan, bukan dengan melupakan, tetapi dengan mempercayai bahwa Allah mereka-rekakan segalanya untuk kebaikan.
Amin. Tuhan memberkati.
Tidak ada jadwal kegiatan untuk satu minggu ke depan.