Matius 16:13-20
Dalam rangka HUT 38 Penyatuan sinode Gereja Kristen Indonesia, pilihan tema untuk direnungkan bersama adalah “Gereja yang Terus Membarui Diri”. Harapan untuk “terus” menandakan kesadaran bahwa gereja berada dalam proses untuk terus menjadi. Dan membarui diri, menjadikan gereja harus berubah, tetapi tentu pertanyaannya berubah menjadi baru yang seperti apa? Dan jika dikaitkan dengan proses untuk terus menjadi maka bentuk baru yang perlu diubah dan dipertahankan menjadi persoalan yang lain lagi. Untuk itu kita perlu menyadari bahwa bentuk dan kebaruan gereja pada masa kini bisa diartikan masing-masing orang dari beragam sisi, misalnya bentuk ibadah, pilihan lagu, ruang ibadah, ekspresinya, cara berorganisasi, bahkan cara berpakaian dan lain sebagainya. Tambahan lagi, kemudahan dan berlimpahnya informasi yang tersedia di sosial media sebagai interaksi yang mempengaruhi membuat arti “terus membarui diri” bisa hadir dalam banyak referensi.
Sebagai gereja, kesadaran untuk membarui diri ini tentu tidak tanpa dasar. Menjadi baru bukan berarti dipengaruhi dari luar dirinya. Namun, merespon dan menjadikan dirinya hadir dan berinteraksi dengan tempatnya berada. Hal mendasar yang bisa menjadi pegangan adalah catatan Matius 16:13 tentang percakapan Yesus: Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?" bagaimana Gereja menghadirkan Anak Manusia itu dalam konteks kehidupan masa kini? Inilah pijakan untuk terus merefleksikan membarui diri bagi Gereja. Anak Manusia yang dihadirkan lewat kesaksian hidup individu maupun Persekutuan sebagai GKI harus mewujud dalam kehadiran Kerajaan Allah bagi kehidupan. Agar pada akhirnya setiap pembaruan diri tetap membuat kesaksian yang meyakinkan sebagaimana yang disampaikan Petrus: Jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" (Matius 16:16)
Anak Allah yang hidup menjadi arah membarui diri bagi GKI, dan setiap orang percaya yang menjadikan Kristus sebagai Kepala Gereja. Untuk itu persoalan-persoalan yang perlu dihadapi adalah yang berlawanan dengan hidup yang dianugerahi Allah. Gereja yang terus membarui diri mengupayakan kehadirannya membawa Anak Allah yang hidup menjadi Mesias bagi mereka yang merasa sendirian, kehilangan harapan, menghadapi keputusasaan, diperlakukan tidak adil, tinggal dalam keserakahan dan wujud-wujud lainnya yang tidak menggambarkan hidup dalam anugerah Allah. Maka kesempatan merefleksikan HUT ke 38 ini tidak mengukur diri hanya sebatas apa yang lama dan baru dalam diri gereja. Namun kesaksian apa yang terus dapat menghadirkan Anak Allah yang hidup dalam pergumulan masa kini. Selamat ulang tahun untuk kita semua. Semoga terus membarui diri membawa anugerah Allah bagi kehidupan.
Tidak ada jadwal kegiatan untuk satu minggu ke depan.