Loading...

Bukan Iman Main-Main

Pdt. Sujanto Putro Waskito Wibowo 22 Apr 2026

 (1 Petrus 1:17–23)

“Beriman” rasanya sudah menjadi sebuah keharusan bagi orang yang mengaku beragama. Kita cenderung menganggap diri sudah cukup beriman tatkala kita rajin berdoa, beribadah dan membaca firman; seperti rutinitas yang berjalan tanpa banyak kesadaran. Namun sebenarnya beriman terjadi lebih jauh daripada itu semua. Hari ini 1 Petrus 1:17–23 mengajak kita untuk berhenti sejenak, lalu merenung lebih dalam tentang arti dan konsekuensi dari menjalani hidup beriman.

Jika kita benar-benar menjadi seorang Kristen dan memanggil Allah sebagai Bapa, Surat 1 Petrus mengingatkan bahwa hidup beriman adalah sebuah sikap batin dan perilaku yang setiap hari butuh kita pelihara serta diperbaharui (di-update). Mengapa? Karena beriman berarti kita hidup berdampingan dan berhadapan dengan Sang Bapa Penyelenggara Kehidupan yang menghakimi dengan adil. Ada dimensi kekudusan dan keseriusan dalam relasi hidup beriman. Maka hidup dalam “takut” menjadi sebuah undangan untuk menghormati Allah dengan sepenuh hati—bukan karena terpaksa, tetapi karena kita sadar siapa Dia sebenarnya.

Perasaan “takut” yang dimaksudkan oleh Surat 1 Petrus adalah sebuah penghayatan yang penuh haru, syukur dan cinta oleh karena menyadari bahwa hidup fana kita telah ditebus oleh darah Kristus yang mahal, bukan dengan nilai yang bisa dihitung oleh angka ukuran manusia. Di sana ada kasih yang tidak main-main. Kasih yang rela berkorban sampai tuntas. Dan mungkin pertanyaan yang perlahan muncul adalah: jika kasih-Nya sedemikian dalam, mengapa respons kita seringkali begitu dangkal?

Sering kali kita hidup seolah-olah iman tidak menuntut perubahan apa-apa. Kita tetap sama, berpikir sama, bersikap sama. Padahal Petrus berkata bahwa kita telah dilahirkan kembali—bukan dari sesuatu yang fana, tetapi dari firman Allah yang hidup dan kekal. Kelahiran baru ini bukan sekadar status, melainkan undangan untuk hidup dengan cara yang baru.

Dan salah satu tanda paling nyata dari kehidupan itu adalah kasih yang tulus. Bukan kasih yang dibuat-buat, bukan yang muncul hanya ketika nyaman, tetapi kasih yang mengalir dari hati yang telah disentuh oleh kebenaran.

Maka mungkin hari ini bukan tentang melakukan lebih banyak, tetapi tentang melihat kembali dengan jernih: iman seperti apa yang sedang kita jalani? Apakah ia hidup dan mengubahkan, atau hanya bergerak di permukaan?

Iman tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi sesuatu yang dangkal. Ia lahir dari kasih yang mahal, dipelihara oleh firman yang kekal, dan seharusnya nyata dalam hidup yang diubahkan. Karena itu, iman memang bukan untuk dijalani dengan sikap yang tidak serius atau “main-main” dan sekadar tiru-tiru (ikut-ikutan).


Kembali ke Daftar

Social Media

Warta Terbaru

Kegiatan Sepekan

Tidak ada jadwal kegiatan untuk satu minggu ke depan.